Oleh : Lusianti – Tenaga Kependidikan ITB Widya Gama Lumajang
(Pemenang Lomba Menulis Artikel Populer (Opini) Hari Kartini 2026 Institut Teknologi dan Bisnis Widya Gama Lumajang)
Setiap tanggal 21 April, masyarakat Indonesia kembali mengenang sosok R.A. Kartini sebagai tokoh penting dalam perjuangan emansipasi perempuan. Namun, peringatan Hari Kartini seharusnya tidak hanya berhenti pada kegiatan seremonial seperti mengenakan kebaya atau mengikuti lomba-lomba simbolik. Lebih dari itu, momen ini perlu dimaknai sebagai kesempatan untuk merenung: seperti apa sosok Kartini di era sekarang? Jawabannya jelas, perempuan yang mandiri, berdaya, dan mampu memberikan pengaruh positif.
Di zaman modern ini, perempuan tidak lagi sekadar berjuang untuk memperoleh pendidikan seperti pada masa Kartini dahulu. Kini, banyak perempuan telah meraih pendidikan tinggi dan berkiprah sebagai pemimpin di berbagai bidang, mulai dari pemerintahan, dunia usaha, teknologi, hingga sektor sosial. Meski demikian, tantangan baru tetap ada, seperti ketimpangan peluang, tuntutan peran ganda antara pekerjaan dan keluarga, serta stigma yang masih melekat di masyarakat.
Makna perempuan berdaya tidak hanya dilihat dari jabatan atau posisi yang dimiliki, tetapi juga dari kemampuannya dalam menentukan jalan hidupnya sendiri. Perempuan yang berdaya berani menyampaikan pendapat, memiliki rasa percaya diri, serta mampu mengembangkan potensi tanpa terhalang norma sosial yang membatasi. Selain itu, kemajuan teknologi saat ini juga membuka peluang luas bagi perempuan untuk berkarya, berwirausaha, dan menyuarakan berbagai isu penting.
Tidak cukup hanya berdaya, perempuan masa kini juga diharapkan mampu memberikan dampak. Dampak tersebut bisa diwujudkan dalam berbagai bentuk, seperti mendidik generasi muda dengan nilai-nilai positif, membuka lapangan pekerjaan, memberi inspirasi bagi lingkungan sekitar, hingga turut serta dalam pembangunan bangsa. Bahkan tindakan sederhana seperti menolong sesama, berbagi pengetahuan, atau menjadi panutan dalam keluarga juga merupakan kontribusi yang berarti.
Meski telah banyak kemajuan, perjuangan Kartini sebenarnya belum sepenuhnya usai. Masih ada perempuan yang belum mendapatkan hak pendidikan yang layak, masih terjadi kekerasan dan diskriminasi, serta masih banyak suara perempuan yang belum mendapatkan perhatian. Karena itu, semangat perjuangan Kartini perlu terus dijaga dan dilanjutkan, tidak hanya oleh perempuan, tetapi oleh seluruh lapisan masyarakat
Hari Kartini seharusnya menjadi momentum untuk mempererat solidaritas, menciptakan ruang yang lebih inklusif, serta membangun lingkungan yang mendukung perempuan untuk berkembang. Perempuan yang mandiri dan berdampak bukanlah ancaman, melainkan kekuatan penting bagi kemajuan bangsa. Selamat Hari Kartini. Inilah saatnya perempuan Indonesia melangkah lebih maju, tidak hanya untuk kepentingan diri sendiri, tetapi juga demi kebaikan bersama.